Ling Mei terbelalak melihat pemandangan yang sama sekali tidak ia duga. Di hadapannya, Lynx duduk santai di dekat api unggun, memanggang daging binatang iblis dengan ekspresi tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Asap tipis mengepul dari daging yang mulai matang, aroma panggangan menyebar di udara.

Mata Ling Mei menyipit. Kekhawatiran yang tadi menyelimuti hatinya perlahan berubah menjadi kekesalan. Ia menatap Lynx dengan dingin, nyaris tidak percaya dengan sikap santainya.

Lynx, yang menyadari kehadiran Ling Mei, melirik sekilas sebelum tersenyum ringan. "Oh, kau datang tepat waktu. Mau makan?" tanyanya santai sambil membalik daging panggangnya dengan ranting kayu.

Ling Mei menghela napas panjang, menahan dorongan untuk langsung menegurnya. "Di mana artefaknya?" tanyanya dengan nada datar.

Lynx mengangkat bahu tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah. "Entahlah," jawabnya sekenanya. "Tapi karena sudah tidak ada, kita santai saja. Makan dulu."

Sebelum Ling Mei sempat membalas, suara langkah kaki terdengar mendekat. Tak lama kemudian, Li Wei, Jelita, dan keempat rekan seperguruan Ling Mei muncul di lokasi. Mereka berhenti tepat di belakang Ling Mei, terpaku melihat adegan yang ada di hadapan mereka.

Li Wei menatap Lynx dengan ekspresi tak percaya. "Kita mencarimu dengan panik, tapi kau malah santai memanggang daging?" suaranya penuh nada protes.

Keempat rekan seperguruan Ling Mei juga terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Mereka semua mengira akan menemukan Lynx dalam kondisi terluka parah atau berusaha menyelesaikan sesuatu yang serius, tetapi ternyata—

Jelita, yang sudah hapal dengan sifat kepala sukunya, hanya menahan senyum. Ia sudah sering melihat Lynx bertindak di luar dugaan orang lain.

Li Wei, yang memang lebih ekspresif masih tidak bisa menahan emosinya, langsung melanjutkan omelannya. "Xiao Ling! Apa kau benar-benar tidak punya rasa takut? Kau hampir mati beberapa hari lalu, dan sekarang kau malah duduk santai memanggang daging seolah tak terjadi apa-apa?! Setidaknya beri tahu kami kalau kau baik-baik saja, bukannya membuat orang lain cemas!"

Lynx tetap tenang, bahkan menyobek sedikit daging panggangnya dan mencicipinya dengan santai. "Hmmm, rasanya lumayan. Mau coba?" ujarnya sambil menawarkan sepotong daging ke arah Li Wei, seakan-akan omelan itu tidak lebih dari sekadar angin lalu.

Keheningan menyelimuti suasana. Para murid yang datang bersama Ling Mei saling berpandangan, kebingungan jelas tergambar di wajah mereka. Salah satu dari mereka akhirnya angkat bicara, suaranya penuh keraguan.

"Xiao Ling... Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan. "Kami semua melihat sendiri kondisimu. Seharusnya kau tidak mungkin bisa bergerak, apalagi duduk santai seperti ini."

Murid lainnya segera menambahkan, suaranya dipenuhi rasa penasaran yang bercampur cemas. "Bukan hanya itu! Saudari seperguruan Ling Mei sendiri bilang kalau dantian dan syarafmu hancur! Itu bukan luka yang bisa sembuh dalam hitungan hari... Seharusnya kau..."

"Menjadi cacat," potong Ling Mei dengan suara datar, matanya menatap Lynx tanpa ekspresi.

Suasana semakin tegang setelah pernyataan tegas itu. Semua murid menahan napas, menunggu jawaban Lynx.

Namun, Lynx hanya mengangkat alisnya tanpa sedikit pun menunjukkan keterkejutan. Dengan santai, ia menggigit sepotong daging panggang dan mengunyahnya perlahan, seolah-olah mereka hanya sedang membahas hal sepele.

"Aku juga heran," jawabnya akhirnya dengan nada ringan. "Tapi lihatlah, aku baik-baik saja." Ia melenturkan jemarinya, lalu menggenggam dan melepaskannya beberapa kali, membuktikan bahwa tubuhnya berfungsi dengan sempurna.

Li Wei mendengus frustrasi. "Jangan bercanda! Itu tidak masuk akal! Dantian yang hancur tidak bisa pulih begitu saja! Apalagi syaraf yang rusak! Kau seharusnya tidak bisa menggerakkan tubuhmu, bahkan mungkin kehilangan kemampuan untuk berkultivasi!"

Lynx akhirnya menoleh ke arah mereka, senyumnya sedikit melebar. "Aku tidak bercanda," katanya santai. "Tapi aku juga tidak punya jawaban untuk pertanyaan kalian."

Ling Mei menatapnya tajam, mencoba mencari kebenaran dalam ekspresinya. "Tidak mungkin ini hanya kebetulan. Sesuatu pasti terjadi. Kau... tidak merasakan keanehan dalam tubuhmu?"

Lynx berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. "Jika kalian menganggap bisa duduk santai sambil memanggang daging setelah hampir mati sebagai keanehan, maka mungkin ada sesuatu yang terjadi," jawabnya dengan nada bercanda.

Wajah Ling Mei menegang. Ia merasa ada sesuatu yang Lynx sembunyikan. "Xiao Ling," katanya dengan suara lebih dalam. "Kau pasti menyembunyikan sesuatu dari kami?"

Lynx menatap Ling Mei, lalu mengangkat bahunya santai. "Tidak perlu dipusingkan, yuk kita makan, aku memiliki stok banyak?" jawabnya ringan sambil mengeluarkan daging-daging lainnya.

Namun, keempat saudara seperguruan Ling Mei justru berbalik. "Kami akan kembali ke kediaman walikota." Namun sebelum pergi, salah satu dari mereka mengingatkan, "Li Wei, jangan lupa, kita semua harus segera kembali ke sekte atau kita semua akan mendapatkan hukuman berat dari ketua."

Jelita, Li Wei, dan Ling Mei akhirnya duduk di dekat Lynx, menatapnya penuh tanda tanya. Mereka menunggu, berharap Lynx akan mulai bercerita tanpa harus mereka paksa. Namun, pemuda itu tampak santai, seolah tidak menyadari keingintahuan mereka.

Sambil membalik daging panggang di atas api, Lynx akhirnya membuka suara. "Yang penting sekarang, energi iblis sudah hilang. Kota Huoling aman," katanya ringan, seolah semua yang terjadi hanyalah urusan sepele.

Ling Mei menghela napas, mencoba menahan rasa frustrasinya. "Xiao Ling, itu bukan yang ingin kami dengar," katanya dengan nada lebih tenang, namun tetap penuh tuntutan. "Tubuhmu… kau hampir mati. Aku melihat sendiri dantianmu yang hancur, syarafmu yang rusak. Itu luka yang seharusnya tidak bisa sembuh begitu saja. Kau benar-benar tidak akan menjelaskan?"

Li Wei mengangguk setuju. "Benar! Jangan berpura-pura seolah ini hal biasa. Tidak ada yang bisa sembuh dari kondisi seperti itu dalam waktu singkat!"

Lynx tersenyum kecil, seolah sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Ia mengambil sepotong daging panggang, meniupnya perlahan, lalu menggigitnya dengan santai sebelum menjawab. "Apa kalian lupa kalau aku bisa ilmu pengobatan?" katanya akhirnya. "Aku punya cara sendiri untuk sembuh."

Jawaban itu membuat Ling Mei dan Li Wei saling berpandangan. Jelas mereka tidak begitu percaya, tetapi mereka juga tahu bahwa mendesak Lynx lebih jauh hanya akan sia-sia.

Ling Mei mendesah pelan, akhirnya mengambil sepotong daging panggang dan mulai memakannya. "Baiklah," katanya pelan. "Kalau kau tidak mau menjelaskan, kami tidak bisa memaksamu."

Li Wei mendengus, tetapi akhirnya ikut mengambil daging panggang yang diberikan Lynx. "Jangan kira ini berakhir di sini," gumamnya sambil menggigit daging dengan sedikit kesal.

Jelita, yang sejak tadi hanya tersenyum tipis, akhirnya ikut mengambil makanannya tanpa banyak bicara. Ia sudah cukup mengenal sifat kepala sukunya untuk tahu bahwa tidak ada gunanya memaksanya berbicara lebih dari yang ia inginkan.

Suasana perlahan mencair. Meski masih ada tanda tanya di benak mereka, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa setelah semua yang terjadi, duduk bersama sambil menikmati makanan terasa jauh lebih baik daripada memikirkan pertanyaan yang mungkin tidak akan mereka dapatkan jawabannya.

"Xiao Ling sepertinya tidak akan mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi," batin Ling Mei sambil menggigit daging panggangnya. Tatapannya melirik sekilas ke arah Lynx dan Jelita. Ia melihat Jelita membantu Lynx memanggang, sesekali menyodorkan daging, seolah melayani kebutuhannya.

"Aku sudah kenyang, aku akan kembali," ujar Ling Mei tiba-tiba, lalu berdiri dan membuang sisa daging di tangannya.

"Kak Ling Mei, kenapa buru-buru? Bukankah sama saja, tetap di sini bersantai atau kembali?" tanya Li Wei heran.

"Aku tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang berduaan," jawabnya dingin sebelum berbalik pergi.

"Kak Ling Mei, tunggu…!" Li Wei buru-buru menyusulnya, sementara pikirannya dipenuhi tanda tanya.

"Pasangan? Siapa?" batinnya, semakin bingung dengan sikap kakak seperguruannya.

Jelita menatap Lynx dengan ragu sebelum berkata pelan, "Maafkan aku, Xiao Ling. Sepertinya Ling Mei marah melihat kedekatan kita."

Lynx hanya mengangkat bahu dengan santai. "Tak perlu dipikirkan. Kita akan segera pergi dari sini setelah aku mendapatkan informasi mengenai keberadaan suku Surya. Tuan Zhen mengatakan bahwa dia mengetahui sesuatu tentang rekan-rekan kita."

